Yuk Jaga Kebersihan Lingkungan Agar Tidak Dituntut 10 Tahun Penjara

Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut hukuman 10 tahun penjara serta denda Rp15 miliar untuk terdakwa nakhoda kapal MV Ever Judger, Zong Deyi. Penduduk negara Tiongkok ini dimaksud berniat melego jangkar hingga menimbulkan pecahnya pipa minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan Kalimantan Timur (Kal-tim) .

” Terdakwa bisa dibuktikan melanggar keputusan dirapikan dalam Undang Undang Lingkungan, ” kata JPU Ita dalam pembacaan tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, Kalimantan Timur (Kal-tim) , Senin (25/2/2019) waktu 15. 00 WITA.

Baca Juga : pencemaran lingkungan

PN Balikpapan masuk babak materi pembacaan gugatan perkara pencemaran perairan teluk. Persidangan masuk sesi akhir sidang pidana lingkungan yg undang perhatian sampai publik mancanegara pada April 2018 itu.

Membaca berkas gugatan, Ita menuturkan terdakwa mengaku semuanya kesalahannya dalam pengecekan penyidik. Penduduk asing ini menyuruh mualim 1 melepas jangkar yg tiada diakui andil pipa minyak basic laut.

Jangkar kapal menyeret pipa baja berdiameter lingkaran 20 inci setebal 12 milimeter sejauh 100 mtr. dari urutan awalnya. Pipa selanjutnya pecah hingga memuntahkan 5 ribu kilo liter minyak mentah ke laut.

” Tumpahan minyak mentah mencemari perairan seluas 86 hektare di Teluk Balikpapan. Dapat disebut pencemaran air udah melewati ujung batas normal toleransi, ” ujarnya.

Berdasarkan info sembilan saksi pakar yg dilansir Ita, ada isyarat rusaknya lingkungan di lebih kurang perairan teluk. Hasil uji baku kwalitas menemukannya ada 1 miligram minyak dalam kandungan per mililiter air perairan teluk.

Pencemaran mengintimidasi kelestarian serta keanekaragaman jiwai perairan Teluk Balikpapan. Pemerintah Indonesia lantas selanjutnya menanggung derita kerugian menakjubkan dalam usaha pemulihan perairan serta ultimatum pencemaran.

” Kementerian Lingkungan Hidup serta Rimba butuh ongkos besar dalam pemulihan perairan, ” imbuhnya.

Sesudah pembacaan gugatan, Ketua Majelis Hakim Kayat memohon terdakwa menyediakan berkas pembelaannya. Dalam pembelaan kasusnya, Zong Deyi didampingi sembilan pengacara yg dihadirkan langsung dari Jakarta.

” Agenda pembacaan pembelaan terdakwa dilakukan minggu depannya, ” putusnya.

Sesudah sidang, Zong Deyi bergegas pergi serta meniadakan pertanyaan wartawan. Sepanjang menekuni persidangan, dia udah sepuluh bulan ini mendiami sel tahanan di Rumah Tahanan Balikpapan.

Selepas sidang, koordinator team kuasa hukum terdakwa, Beny Lesmana, menghargai gugatan dikirimkan jaksa pada clientnya. Menurut dia, jaksa tentulah berotoritas dalam pemastian gugatan sesuai sama tinjauan hukum laku di negeri ini.

Artikel Terkait : pencemaran tanah

” Bab besaran gugatan ini udah kekuasaan kejaksaan. Kami tak dapat berikan komentar, ” ujarnya.

Walau begitu, Beny terus berkeyakinan clientnya tak bersalah berkaitan perkara pencemaran perairan teluk ini. Dia bahkan juga yakin majelis hakim meluluskan permintaan bebas murni pada persidangan seterusnya.

” Kami terus sangat percaya terdakwa kelak bakal mendapat putusan bebas murni, ” katanya.

Di tempat terpisah, LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kal-tim kurang gairah menyikapi gugatan jaksa. Untuk pelaku lingkungan, sangkaan mestinya ikut disematkan pada Pertamina yang memiliki minyak mentah.

” Untuk Walhi semua yg turut serta harusnya bertanggung-jawab, baik itu pemilik kapal atau pertamina, ” sesal Direktur Walhi Kal-tim, Yohana Tiko.

Pencemaran perairan teluk, menurut Tiko adalah kejahatan lingkungan menakjubkan yg beresiko untuk warga Balikpapan. Pencemaran minyak mentah diyakinkan menyebabkan kerusakan semuanya daerah pesisir bersama-sama biota laut di dalamnya.

Dalam perkara ini, Tiko menyoalkan usaha pemerintah dalam kembalikan kekayaan ekologis Teluk Balikpapan. Sejauh ini, dia menilainya pemerintah belum juga maksimum menanggulangi rusaknya perairan teluk.

” Ini sebagai pertanyaan, apakah yg dilaksanakan pemerintah buat pengembalian ekologis teluk, ” katanya.

Di lain bagian, Direktur LSM Konstan Balikpapan, Jufriansyah, demikian sebaliknya mengapresiasi keberanian kejaksaan dalam menuntut 10 tahun penjara serta denda Rp 15 miliar. Menurut dia, gugatan ini dapat berubah menjadi preseden positif dalam usaha penegakan hukum pidana lingkungan di Indonesia ke depan.

” Gugatan pidana lingkungan dengan ultimatum 10 tahun penjara tetap jarang di Indonesia. Ini dapat berubah menjadi shock terapis untuk banyak pelanggar lingkungan, ” pungkasnya.

Di samping itu, Jufriansyah memperingatkan aparat negara tak berhenti dengan menyambung ide tuntutan perdata rubah rugi terhadap pemilik kapal. Putusan pidana dikehendaki memperkokoh tuntutan perdata yg kelak dikirimkan Pertamina.

Tumpahan minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan berlangsung dalam akhir bulan April 2018 lalu. Tumpahan minyak terjadi sensasional lantaran menimbulkan kebakaran hebat selama perairan teluk.

Petaka ini pun berakhir pada korban jiwa tiga orang pemancing lokal penduduk Balikpapan. Mereka teperdaya dalam kepungan kobaran api yg terjadi hampir 20 menit.

Semuanya itu lantaran kapal MV Ever Judger asal-asalan melego jangkar di ruangan steril pelayaran. Areanya itu adalah arah pipa minyak mentah basic laut yg menghubungkan Pertamina Balikpapan serta Terminal Lawe Lawe di Penajam Paser Utara.

Sehabis mengerjakan pengumpulan bukti-bukti, Kepolisian Daerah (Polda) Kal-tim memastikan nahkoda kapal jadi terduga serta mengambil kapal itu. Polisi mengira nakhoda ada unsur kesalahan hingga berakhir patahnya pipa minyak Pertamina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *