Jangan Lewatkan Isu Pilpres 2019 Mulai “Perang Teks”

Apakah yang Anda jelaskan bila dengar rumor ” 2019 tukar presiden? ” Ada yang berseru : ” Salam dua jari, Jokowi dua periode! ” Ditambah lagi konsolidasi partai besar juga memberitahukan memberi dukungan Jokowi. Pasti ada juga yang berkata, jika hal demikian dapat saja oleh demokrasi.

Baca juga : teks editorial

Saya duga jawaban Presiden Jokowi saat bersua di muka relawan kala Konvensi Nasional Galang Perkembangan 2018 di Bogor, Sabtu (7/4) terus, telah benar. ” Saat ini isunya tukar kembali, rumor kaus. Tukar Presiden 2019 gunakan kaus. Masak kaus dapat tukar presiden? Yang dapat tukar presiden itu rakyat, ” kata Jokowi.

Pergerakan ” 2019 Tukar Presiden ” yang disuarakan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera itu nyatanya direspons oleh Jokowi. Mardani mengemukakan PKS ingin mengikuti keberhasilan bintang Liverpool Mohamed Salah. Apakah korelasinya?

Menurut Mardani, pihaknya berupaya seelegan serta seindah mungkin menang dalam Pemilihan presiden 2019 seperti Mo Salah mengalahkan Eropa dengan prestasi serta gol-gol cantiknya. ” Kita bukan ingin membuat pergerakan makar, pergerakan hoaks ditambah lagi pergerakan fitnah. Tidak! ” tutur Mardani terhadap wartawan, Sabtu (7/4) saat lalu.
Perbedaannya, Jokowi sudah mengukir prestasi dengan bermacam capaian pembangunan. Mengenai golongan oposisi, sebutlah Gerindra serta PKS cuma dapat memperlancarkan arahan sebab memanglah belum berkuasa.

Simaklah : teks cerita sejarah

Akan tetapi saya duga, teks yang dilancarkan oleh Jokowi serta Mardani susbtansinya mirip. Saling menjunjung demokrasi bila berkata perihal pilpres.

Saat satu teks di luncurkan, ia akan dikonsumsi oleh warga lewat cara beraneka. Akan tetapi warga bukan semata-mata customer teks. Tapi dapat jadi produsen teks. Teks yang dikonsumsi terus di produksi kembali hingga nampaklah teks baru.

Nampaklah, intertekstual, yang beraneka. Teks yang baju cuma tumbuh di negara totaliter. Itupun, sebab direpresi oleh rezim yang berkuasa.
Syukurlah, sekarang kebanyakan orang bisa beranggapan. Bila arahan dibatasi, hidup akan seperti sayur tiada garam. Pandangan publik miskin pertanyaan serta perbincangan. Pada akhirnya dimonopli beberapa kelompok keperluan.

Akan tetapi arahan semestinya santun, pakai data, bukan hoaks serta fitnah. Seseorang demokrat sejati akan membela hak beranggapan seorang, walaupun ia gak sepakat dengan opini itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *