Beginilah Mana yang Lebih Afdhal Antara Shalawat dan Dzikir?

SHALAWAT termasuk juga sisi dari dzikir. Sebab dalam lafadz shalawat, kita berdoa pada Allah, “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyinaa Muhammad”, yang berarti, ‘Ya Allah, berikanlah shalawat serta salam pada Nabi kita Muhammad. ’

Artikel Terkait : doa setelah adzan 

Dalam kalimat ini ada kandungan arti,

1. Kalau Allah ialah Rab semesta alam yang mengontrol semua makhluk-Nya. Sebab itu, kita berdoa kepada-Nya. Serta doa tak kan kita tujukan terkecuali pada Dzat yang kita yakini dapat mengambulkan doa.

2. Kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah wali Allah, hingga punya hak buat mendapat shalawat serta salam.

3. Kalau kita mengaku kalau Allah ialah sesembahan kita, hingga kita menyebut dengan Allahumma, ya Allah… sebab kata ‘Allah’ berarti al-Ilaah, yang berarti al-Ma’luuh (Dzat yang diibadahi) .

Sebab itu, sewaktu kita bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hakekatnya kita ikut tengah lakukan dzikrullah.

Lalu, ada pertanyaan, apabila ada dua tipe dzikrullah, manakah yang paling utama?

Menyebutkan kalimat thayyibah – seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Besar, Laa ilaaha illallah, dst, termasuk juga dzikir yang mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Simak Juga : doa masuk masjid

Perkataan yang sangat di cintai Allah ada 4 : Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, serta Allahu Besar. Tak jadi masalah membacanya pengen di awali dari lokasi mana. (HR. Muslim 5724) .

Alquran termasuk dzikirullah yang mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Keutamaan kalam Allah dibanding perkataan yang berbeda, seperti keutamaan Allah dibanding makluk-Nya. (HR. Turmudzi 3176 serta ad-Darimi 3419) .

Hadis ke dua ini jadikan dalil oleh beberapa ulama, salah satunya Imam as-Syafii buat mengemukakan kalau membaca alquran ialah dzikir yang sangat afdhal.

Dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh Muhadzab, an-Nawawi sebutkan,

Syaikh Abu Hamid dalam catatan beliau di bab ini menukil pengucapan Imam as-Syafii yang mengatakan kalau membaca alquran ialah dzikir yang sangat afdhal. (al-Majmu’, 8/44)

Terus bagaimana komprominya dengan hadis atasnya,

An-Nawawi memaparkan,

Jawabannya, kalau yang disebut dalam hadis ini (hadis Muslim) , kalau kalimat thayyibah itu ialah perkataan manusia yang sangat di cintai Allah serta yang sangat afdhal. Bukan bermakna ia lebih afdhal dibanding kalam Allah (alquran) . Allahu a’lam. (al-Majmu’, 8/45)

Demikian juga shalawat. Allah memerintah kita buat banyak bershalawat. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah serta malaikatnya bershalawat pada nabi, wahai beberapa orang yang beriman bershalawatlah kalian padanya serta ucapkanlah salam buatnya. ” (Qs. Al- Ahzab : 56) .

Makin banyak shalawat yang kita lantunkan, sebakin besar kesempatan buat mendapatkan keunggulan disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam satu hadis, beliau bersabda,

“Orang yang sangat dekat dariku dalam hari kiamat ialah yang sangat banyak bershalawat kepadaku. ” (HR. At-Tirmidzi, serta dihasankan Al-Albani) .

Yang kami ketahui – Allahu a’lam – membaca alquran adalah dzikir yang sangat afdhal, sebab alquran ialah kalam Allah.

Lalu, manakah yang paling utama, dzikrullah atau mungkin shalawat?

Apabila di kaitkan dengan lantaran, jadi ibadah sesuai dengan lantaran tersebut yang sangat afdhal. Membaca shalawat pada kala disarankan bershalawat – umpamanya sehabis adzan, lebih afdhal dibanding dzikir yang berbeda. Sebab ia dibaca sesuai dengan saatnya.

Demikian juga, membaca kalimat thayibah Subhanallah, Alhamdulillah, serta Allahu Besar, sewaktu dijalankan sesuai dengan saatnya – umpamanya sehabis salat mesti – paling utama dibanding membaca shalawat.

Sesaat apabila tidak di kaitkan dengan lantaran spesifik, kedua-duanya saling afdhal. Serta yang lebih pas ialah mengamalkannya lewat cara bergantian, supaya kita melestarikan semua ajaran syariat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *